بسم الله الر حمن الر حيم

          Umat nabi Muhammad saw adalah umat akhir zaman dan tidak akan ada lagi umat setelah umat ini. Seharusnya umat ini mendapat banyak pelajaran dari umat-umat sebelumnya. Pelajaran tentang keimanan dan pelajaran tentang penghianatan kepada Tuhan semesta alam, Allah subhanahu wa ta’ala. Mari kita kembali beberapa masa ke belakang untuk melihat perilaku umat-umat/kaum terdahulu dan mengambil pelajaran dari mereka:

  1. Kaum Luth (Pelaku Homo Seks)

          Mereka adalah umat terdahulu yang mengerjakan perbuatan fahisyah (Perbuatan keji: menurut jumhur mufassirin yang dimaksud perbuatan keji ialah perbuatan zina, sedang menurut pendapat yang lain ialah segala perbuatan mesum seperti : zina, homoseks dan yang sejenisnya. Menurut pendapat Muslim dan Mujahid yang dimaksud dengan perbuatan keji ialah musahaqah (homoseks antara wanita dengan wanita)). Kepada mereka diutus seorang nabi dan rasul bernama Luth as. Kamu Luth adalah pelaku homoseks (hubungan intim antara laki-laki dengan laki-laki) yang merupakan perbuatan yang sangat menyimpang dari kodrat yang telah ditetapkan oleh allah.

Nabi Luth as. sudah memperingatkan mereka untuk meninggalkan perbuatan yang terkutuk itu, seperti termuat dalam al-Qur’an surat An Naml ayat 54-55 yang artinya:

Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu memperlihatkan(nya)?” (an-Naml: 54)

“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu).” (an-Naml: 55).

Namun apa jawaban dari kaumnya? :

Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (menda’wakan dirinya) bersih”. (an-Naml: 56)

Pernah suatu hari, nabi Luth as kedatangan tamu (malaikat) yang menyamar sebagai manusia (laki-laki yang rupawan). Kisah ini diabadikan oleh Allah di dalam al-Qur’an surat Huud ayat 77-81:

Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit”. (Huud: 77)

Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?”. (Huud: 78)

Mereka menjawab: “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki”. (Huud: 79)

Luth berkata: “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)”. (Huud: 80)

Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”. (Huud: 81)

          Di lain surat, Allah swt menceritakan lebih detail tentang kaum Luth (QS. al-Hijr: 61-72):

– Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut pengikutnya, (al-Hijr: 61)

– ia berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.” (al-Hijr: 62)

– Para utusan menjawab: “Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. (al-Hijr: 63)

– Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. (al-Hijr: 64)

– Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutlah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara kamu menoleh kebelakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang di perintahkan kepadamu.” (al-Hijr: 65)

– Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh. (al-Hijr: 66)

– Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. (al-Hijr: 67)

– Luth berkata: “Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), (al-Hijr: 68)

– dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina.” (al-Hijr: 69)

– Mereka berkata: “Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia ?” (al-Hijr: 70)

– Luth berkata: “Inilah puteri-puteriku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).” (al-Hijr: 71)

– (Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).” (al-Hijr: 72)

Maka sudah sepantasnyalah Allah swt meng-azab mereka pada waktu shubuh dengan suara keras mengguntur (QS. al-Hijr: 73), hujan batu (QS. Al A’raaf: 84) dan negerinya dibalik dari atas ke bawah (QS. Huud:82).

Semoga kita sebagai umat yang terakhir bisa mengambil pelajaran dari kaumnya nabi Luth as, amin ya rabb.

Bersambung ke Bagian 2: Kaum Tsamud…

Alhamdulillah, semoga bermanfaat,,,

About ifqo

Kepingin melawan arus, agar tidak tenggelam,,,

Tinggalkan Komentar/Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s