بسم الله الر حمن الر حيم

          Biar nggak dikatakan “Seperti Kacang Lupa pada Kulitnya”, kali ini saya mau menulis tentang profil kota di mana saya tinggal, kota Pekalongan. Kalau ada salah ketik, salah ini dan salah itu, mohon dimaklumi, OK?

          Pekalongan adalah salah satu kota di Provinsi Jawa Tengah yang dilewati oleh jalur Pantura (Pantai Utara) pulau Jawa yang menghubungkan Jakarta-Tegal-Pemalang-Pekalongan-Batang-Semarang-Jepara-Surabaya. Pekalongan terletak diantara 6º 50’ 42” – 6º 55’ 44” LS dan ‎‎109º 37’ 55” – 109º 42’ 19” BT (Sumber: Wikipedia) atau 6º 52’ 58,52” LS dan 109º 40’ 12,46” BT (Sumber: Google Earth). Pekalongan terbagi menjadi 4 Kecamatan, yaitu: Pekalongan Barat, Pekalongan Selatan, Pekalongan Timur dan Pekalongan Utara. Pekalongan Barat berbatasan dengan kota Pemalang, Pekalongan Selatan berbatasan dengan Kabupaten Batang. Sedangkan Pekalongan Timur berbatasan dengan kabupaten Batang dan Pekalongan Utara berbatasan dengan Pantai Utara. dari keempat kecamatan tersebut, masih dibagi lagi menjadi 47 kelurahan.

          Julukan kota ini adalah Kota Batik. Batik yang dimaksud adalah bisa sebagai kota ini adalah salah satu kota penghasil batik dengan corak yang khas dan variatif, bisa juga diartikan sebagai Batik adalah singkatan dari: Bersih, Aman, Tertib, Indah, Komunikatif. Mayoritas penduduknya beragama Islam, sehingga kota ini terkenal dengan nuansa religiusnya. Ada beberapa adat tradisi di Pekalongan yang tidak dijumpai di daerah lain yaitu: Syawalan, Sedekah Bumi, Tari Sintren, Kuntulan, Simtud Durar dan Sya’banan.

          Syawalan adalah upacara adat bagi umat Islam yang berada di Pekalongan dan sekitarnya untuk merayakan lebaran ke dua pada hari ketujuh setelah setelah lebaran ied fitri. Kegiatan ini biasa diisi dengan pemotongan lopis besar dengan ukuran diameter kurang lebih 150 cm, berat 185 kg dan tinggi 110 cm. Lopis ini memecahkan rekor MURI sebagai lopis terbesar di indonesia. setelah dipotong-potong, lopis ini kemudian dibagiakan kepada pengunjung. Kegiatan ini biasa berpusat di kota Slamaran. Tari Sintren merupakan sebuah tarian yang berbau mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dan Raden Sulandono. Dikisahkan bahwa Raden Sulandono adalah putra Ki Bahurekso hasil pernikahannya dengan Dewi Rantansari. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari ayahnya, Ki Bahurekso. Akhirnya Raden Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan diantara keduanya masih terus berlangsung melalui alam ghaib. Pertemuan tersebut diatur oleh ibu Raden Sulandono, Dewi Rantansari yang memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula Raden Sulandono yang sedang bertapa dipanggil rohnya untuk menemui Sulasih, maka terjadilah pertemuan diantara Sulasih dan Raden Sulandono.

          Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya. Sintren harus diperankan oleh seorang gadis yang masih suci (perawan), dibantu oleh pawangnya dan diiringi 6 orang pemegang gending. pada saat ini, Tari Sintren sebagai hiburan rakyat masih memiliki aura mistis, yang kemudian dilengkapi dengan beberapa penari pendamping dan pelawak.

          Simtud Durar merupakan kesenian tradisional yang bernafaskan Islam yang terpengaruh gaya bangsa Arab dengan menggunakan Rebana dan Jidur sebagai alat musiknya. Kesenian ini beranggotakan antara 15 orang hingga 20 orang, dengan diiringi musik mereka melantunkan puji-pujian atau sholawat kepada Nabi Muhammad saw. sebagai ungkapan syukur dan permohonan keselamatan dunia dan akhirat pada Allah SWT. Kesenian ini biasa digunakan pada saat pembukaan acara hajatan atau selamatan yang diselenggarakan oleh warga masyarakat Kota Pekalongan yang terkenal dengan ketaatannya dalam menjalankan perintah agama. Kuntulan merupakan kesenian tradisional yang bernafaskan Islam yang dimainkan oleh 18 orang yang semuanya adalah laki-laki. Posisi ke-18 orang ini dalam melakukan tarian adalah 9 orang di depan dan 9 orang di belakang. Hal tersebut dimaksudkan akan mengandung makna Asmaul Khusna yaitu 99 sifat Allah SWT. Sya’banan adalah upacara keagamaan/kebudayaan di daerah Pekalongan yang diselenggarakan setiap tanggal 14 sya’ban setahun sekali untuk mengenang/mengingat jasa-jasa Sayid bin Abdullah bin Abdullah bin Tholib Al Atas, semasa hidupnya merintis pendirian Pondok Pesantren di Pulau Jawa.

          Untuk masalah kuliner, Pekalongan memiliki makanan khas, namanya Nasi Megono (Sego Megono) dan Tauto (Soto Merah). Nasi Megono adalah Nasi yang di taburi nangka muda yang dicincang kecil dan diberi bumbu (yang sebelumnya dikukus), sangat cock untuk sarapan di pagi hari. Makanan ini enak dinikmati dengan atau tanpa lauk tambahan. Tapi biasanya nasi megono lebih mantap jika ditambah sambal dan tempe (tepung) goreng. Kuliner ke dua adalah Soto Merah. Kenapa disebut Soto Merah, karena warnanya merah tua agak kehitaman. Namun kebanyakan orang Pekalongan menyebutnya hanya Soto (tanpa Merah). Soto ini mengandung Taucho (sejenis penyedap rasa yang dibuat dari kedelai yang dibusukkan). Terdapat berbagai macam menu Soto Merah, diantanya Soto Merah Ayam, Daging, Jeroan dengan mie Bihun. Soto Merah paling enak bila dicampur dengan Lontong (Nasi yang dibungkus menggunakan daun Pisang kemudian dikukus sampai matang). Selain Nasi Megono dan Soto Merah, Pekalongan memiliki banyak kuliner yang tidak kalah nikmatnya seperti Garang Asem dan Keripik Tahu.

          Untuk sementara, sekian dulu. Tentang asal-usul nama kota Pekalongan dan hal lainnya yang berhubungan dengan Pekalongan, insya Allah akan saya kupas tuntas-tas-tas pada lain waktu. Terima Kasih.

          Iklan:

          Alhamdulillah, semoga bermanfaat,,,,

About ifqo

Kepingin melawan arus, agar tidak tenggelam,,,

Tinggalkan Komentar/Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s