بسم الله الر حمن الر حيم

          Wahai kaum muslim, bersatulah, jangan bercerai berai…

          Sudah sering kita dengar “teriakan” seperti itu dan mungkin kita sudah bosan untuk mendengarnya. Karena bagi sebagian orang, kata-kata seperti itu hanyalah sebatas wacana dan mungkin selamanya hanya akan seperti itu saja tanpa bisa menjadi realita (maaf kalo salah, saya tidak bermaksud menggurui ataupun sok pintar :)).

          Bagaimana tidak? Mari kita lihat kenyatan yang ada di masyarakat sekarang, terutama saat moment ramadhan 1432 H kali ini. Hampir dipastikan, setelah melakukan sholat isya ada “kultum” dan dilanjutkan sholat tarawih. Nah, masalahnya ada pada “kultum”nya. Kebanyakan dari isi “kultum” tersebut tidak mencerminkan dari apa yang tertulis di atas. Yang satu ngomongnya ini, yang satunya lagi ngomongnya itu. Yang sini ngomong gini, yang situ ngomong gitu. tidak satu kata.

          Ditambah lagi apabila “kepercayaan”nya terusik, sudah dipastikan “si korban” akan membalasnya di lain waktu. Hal ini pernah terjadi di tempat saya. Saat itu, sang ustadz dari golongan “M” memberikan kultum yang cukup panjang tentang sesuatu yang ternyata ustadz dari golongan “N” mendengarnya dan merasa hal tersebut tidak benar. Hal itu kemudian dibalas di hari berikutnya dengan sangat lengkap dan sangat lama. Namun saya tidak begitu khawatir dengan hal itu, yang saya khawatirkan adalah umat yang mendengarnya. Selain merasa ada aroma “balas dendam”, umat juga merasa gerah karena kultumnya terlalu lama ditambah lagi ada beberapa orang yang “nunut ngiyup” di masjid itu, dalam arti hanya ke masjid apabila saat-saat tertentu saja (mungkin saya juga termasuk di golongan ini) yang tidak biasa mendengar kultum yang lama.

          Bukankah rasulullah mengajarkan berbicaralah (berdakwahlah) kepada orang lain sesuai kadar orang yang didakwahi? Kalu begini sih bukan dakwah sesuai kadar, tapi kebencian melebihi kadar. Ada kalanya tegas itu penting, tapi sebetulnya kesabaranlah yang paling penting. Jika kesabaran di nomor duakan, maka hal seperti di ataslah yang akan terjadi dan umat yang akan merasakan akibatnya.

          Ibarat mata boleh dua, tapi mulut harus satu. Bolehlah kita belajar/membaca dari sesuatu yang berbeda dengan yang lain, namun yang keluar dari mulut haruslah sama dengan yang lain sehingga tidak ada kesimpangsiuran di mata umat. Jika yang keluar dari mulut sudah satu kata, maka kalimat di atas (paling atas) bias menjadi kenyataan, insya Allah,,,

          Alhamdulillah, semoga bermanfaat,,,

About ifqo

Kepingin melawan arus, agar tidak tenggelam,,,

Tinggalkan Komentar/Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s